Makassarviral.com, Jakarta, Kamis, 29/10/2026 — Pendapatan konsolidasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencapai US$2,71 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, naik 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemulihan Layanan dan Pertumbuhan Pendapatan
Pertumbuhan pendapatan didorong oleh pemulihan layanan penerbangan berjadwal dan kontribusi bisnis non-penerbangan yang semakin besar.
Bisnis penerbangan berjadwal memberikan kenaikan US$233,2 juta atau 12,6%.
Penerbangan non-berjadwal naik US$6,3 juta atau 2,1%.
Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro menyampaikan bahwa transformasi bisnis dilandauhi pertumbuhan pendapatan dan penguatan seluruh ekosistem usaha Grup.
“Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha Grup,” kata Thomas, Kamis, 29/10/2026.
Pendapatan Non-Penerbangan Naik 31,3%
Pendapatan dari lini usaha non-penerbangan mencatatkan pertumbuhan 31,3% mencapai US$322,8 juta.
Pertumbuhan ini didukung kenaikan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4%.
Layanan agen perjalanan juga naik 76,1%.
Thomas menekankan bahwa optimalisasi seluruh entitas usaha menjadi bagian dari strategi transformasi, didukung oleh kepemilikan Danantara.
“Dengan dukungan Danantara, kami terus berfokus pada peningkatan produktivitas, optimalisasi nilai ekonomi dari aset dan kapabilitas yang dimiliki,” lanjut Thomas.
Meski tekanan biaya industri masih tinggi akibat kenaikan harga bahan bakar penerbangan, beban operasional di luar bahan bakar hanya naik 3,1%.
Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan 13,2%.
Pemulihan Armada dan Operasional
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Garuda Indonesia Group mengoperasikan 106 pesawat.
Jumlah ini terdiri dari 64 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink.
Jumlah ini bertambah 24 pesawat dari 82 pesawat pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penambahan ini sejalan dengan program reaktivasi armada.
Ketersediaan armada mendukung pertumbuhan trafik penumpang hingga 16,7 juta penumpang.
Jumlah ini naik dari 15,6 juta penumpang tahun sebelumnya.
Garuda Indonesia melayani sekitar 7,7 juta penumpang.
Sementara Citilink mengangkut sekitar 8,9 juta penumpang.
Frekuensi penerbangan Grup naik 7,9% mencapai 117.868 penerbangan.
Kualitas layanan juga membaik, tercermin dari on-time performance (OTP) yang mencapai 92,01%.
Nilai ini naik 5,86 poin persentase dari 86,15% tahun sebelumnya.
Thomas menegaskan bahwa pemulihan armada perlu diikuti peningkatan produktivitas dan optimalisasi jaringan penerbangan.
“Pemulihan ketersediaan armada merupakan bagian penting dari transformasi kami. Namun, penambahan kapasitas saja tidak cukup,” tambahnya.
Rugi Konsolidasi Menyusut 3%
Dalam periode yang sama, Garuda Indonesia Group mencatatkan laba usaha sebesar US$97,2 juta.
Rugi konsolidasi menyusut 3% menjadi US$179,3 juta.
Perseroan akan terus memprioritaskan peningkatan utilisasi dan produktivitas armada.
Optimalisasi jaringan penerbangan dan pengelolaan biaya serta aset yang lebih efektif juga menjadi fokus.
Langkah ini bertujuan mendukung pemulihan profitabilitas secara bertahap dan berkelanjutan.
