81 Tahun Indonesia Merdeka, Apakah Perempuan Sudah Ikut Merdeka?

Makassar2 Dilihat

Makassarviral.com, Makassar, Minggu, 16/08/2026 — Memasuki usia kemerdekaan ke-81, pertanyaan tentang kemerdekaan perempuan masih relevan untuk direnungkan. Meski banyak kemajuan, kesenjangan gender masih terlihat di berbagai bidang.

Perempuan Bukan Penonton Kemerdekaan

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran perempuan. Mereka terlibat dalam pendidikan, pergerakan politik, jurnalisme, hingga perlawanan bersenjata.

Nama-nama seperti Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, Rasuna Said, Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan R.A. Kartini adalah bagian dari perjuangan itu.

Perempuan tidak hanya menikmati kemerdekaan, tetapi ikut membentuk jalannya menuju kemerdekaan.

Ada Kemajuan, tetapi Jarak Belum Hilang

Indeks Ketimpangan Gender Indonesia pada 2025 berada di angka 0,402, membaik dibanding tahun sebelumnya. Namun kesenjangan di dunia kerja masih lebar.

BPS mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki mencapai 85,14 persen, sementara perempuan hanya 55,84 persen. Selisihnya hampir 30 poin persentase.

Banyak perempuan ingin bekerja, tetapi terhambat tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan domestik yang tidak dibagi seimbang.

Merdeka Harus Berarti Aman

Rasa aman menjadi ukuran mendasar kemerdekaan. Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2025 mendokumentasikan 376.529 kasus kekerasan berbasis gender, meningkat 14,07 persen dibanding tahun sebelumnya.

Angka itu menunjukkan kekerasan masih terjadi dalam skala besar. Hak tanpa perlindungan hanya indah di atas kertas.

Ada Kursi Politik, tetapi Belum Cukup Banyak Suara

Keterwakilan perempuan di DPR RI periode 2024–2029 sekitar 21,9 persen. Ini kemajuan, tetapi belum seimbang dengan jumlah penduduk perempuan.

Kehadiran perempuan penting karena pengalaman hidup memengaruhi cara kebijakan dilihat. Perspektif perempuan harus hadir sejak awal, bukan tambahan.

Ketika Pekerjaan Perempuan Akhirnya Diakui sebagai Kerja

Tahun 2026 menjadi tonggak dengan disahkannya RUU Pelindungan Pekerja Rumah Tangga. Ini pengakuan hukum atas pekerjaan domestik yang banyak dilakukan perempuan.

Pekerjaan merawat rumah, memasak, dan mengasuh anak sering dianggap alamiah sehingga kehilangan nilai sosial. Keadilan dalam berbagi tanggung jawab adalah kunci.

Perempuan Kepala Keluarga dan Realitas yang Sering Tidak Terlihat

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat 11,54 juta perempuan menjadi kepala keluarga di Indonesia. Ini menunjukkan realitas keluarga yang beragam.

Mereka membutuhkan sistem yang mengakui realitas hidup, bukan rasa kasihan.

Jangan Hanya Memanggil Perempuan “Hebat”

Pujian seperti “perempuan hebat” bisa menjadi cara halus membiarkan ketidakadilan. Perempuan tidak selalu butuh gelar, tetapi keadaan yang adil.

Mereka butuh pasangan yang berbagi pekerjaan rumah, tempat kerja tanpa diskriminasi, jalan yang aman, dan sistem hukum yang berpihak pada korban.

Kemerdekaan Perempuan Tidak Berarti Memusuhi Laki-Laki

Kesetaraan bukan kompetisi. Laki-laki juga merdeka untuk terlibat dalam pengasuhan tanpa dianggap kehilangan maskulinitas.

Setiap orang berhak menentukan hidup tanpa dihukum karena tidak mengikuti stereotip gender.

Dari Makassar hingga Indonesia Timur

Pengalaman perempuan di Indonesia Timur sangat beragam. Ada pekerja pasar, perempuan pesisir, petani, guru di kepulauan, dan pelaku UMKM.

Kebijakan tidak boleh hanya dibuat berdasarkan pengalaman perempuan kelas menengah perkotaan. Semua suara harus didengar.

Kemerdekaan yang Harus Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Perempuan merdeka ketika anak perempuan bisa bercita-cita tanpa batasan gender. Juga ketika korban kekerasan berani melapor karena percaya sistem melindungi.

Kemerdekaan perempuan tidak selesai dengan proklamasi. Tugas generasi setelahnya adalah memastikan hak menentukan nasib sendiri benar-benar hidup pada setiap warga negara.

81 Tahun: Saatnya Mengubah Pertanyaan

Pertanyaan yang relevan bukan lagi “Apa yang sudah diberikan perempuan untuk Indonesia?” tetapi “Apa yang sudah dilakukan Indonesia agar setiap perempuan merasakan kemerdekaan?”

Selama masih ada perempuan kehilangan kesempatan karena jenis kelaminnya, masih ada pekerjaan. Selama kekerasan dianggap urusan pribadi, masih ada pekerjaan.

Kemerdekaan juga tentang perempuan yang bebas menentukan masa depannya sendiri. Sebuah republik belum sepenuhnya merdeka apabila setengah manusianya masih harus berjuang untuk kebebasan yang seharusnya menjadi milik semua.