10 Kasus Mutilasi Perempuan Muda dalam 3 Tahun: Akademisi Ungkap Akar Femisida

Berita Makassar

Makassar2 Dilihat

MakassarViral.com, Makassar, Jumat, Mei 22, 2026 — Kasus femisida di Indonesia menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sepuluh kasus mutilasi terhadap perempuan muda terjadi dalam tiga tahun terakhir. Akademisi Rusliana Rusli menilai fenomena ini berakar pada ketidaksetaraan gender dan kegagalan mekanisme psikologis pelaku.

Akademisi Rusliana Rusli menyoroti meningkatnya kasus femisida di Indonesia pada Jumat, Mei 22, 2026. Sepuluh kasus mutilasi terhadap perempuan muda tercatat sejak 2024. “Femisida adalah aksi keji dan ekstrim,” kata Rusliana, Akademisi.

Fenomena Femisida dan Data Terbaru

Menurut Rusliana, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan berdasarkan jenis kelamin. Istilah ini pertama diperkenalkan oleh Diana E. H. Russell pada 1976. Dua kasus menonjol adalah pembunuhan Uswatun Khasanah yang jasadnya ditemukan terpisah di tiga lokasi dan kasus mutilasi di Mojokerto yang sangat keji.

“Femisida adalah aksi keji dan ekstrim, menghabisi nyawa perempuan yang didasari oleh jenis kelamin atau gendernya,” kata Rusliana Rusli, Akademisi, Jumat, Mei 22, 2026.

Faktor Psikologis dan Sosial di Balik Femisida

Rusliana menjelaskan bahwa kejahatan keji sering kali disebabkan kegagalan mekanisme pertahanan ego atau dorongan destruktif bawah sadar, seperti teori Sigmund Freud. Faktor pemicu utama adalah rasa tersinggung karena harga diri pelaku terusik. Pelaku juga sering memiliki trauma masa lalu yang ditekan sehingga memicu agresi tanpa kontrol.

“Faktor pemicu utama femisida adalah rasa tersinggung karena harga diri pelaku terusik,” kata Rusliana, Jumat, Mei 22, 2026. Tindakan mutilasi lahir dari rasa takut akan konsekuensi, misalnya pelaku yang sudah beristri nekat menghilangkan jejak untuk menutupi kesalahan.

Upaya Pencegahan

Menurut Rusliana, pembentukan karakter tidak bisa dibebankan hanya pada sekolah. Pondasi utama dibangun di rumah melalui kehangatan keluarga. Ketika pemuda kehilangan rasa percaya diri dan ruang aman, tingkat stres meningkat dan muncul jalan pintas.

Dibutuhkan kerja sama semua pemangku kepentingan untuk membangun karakter kuat, terutama pada perempuan. Perempuan hebat bukan hanya soal penampilan fisik, melainkan keberanian untuk berkata tidak pada hal yang merendahkan atau merugikan diri mereka.

Komentar