Muhammadiyah Ingatkan Manusia Tidak Kehilangan Daya Pikir Akibat AI

Makassar2 Dilihat

Makassarviral.com, Makassar, Sabtu, 08/08/2026 — Muhammadiyah mengingatkan kemajuan artificial intelligence atau AI tidak boleh membuat manusia kehilangan daya pikir dan kepakaran.

Teknologi Sebagai Alat Bantu
Anggota Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yuniar Wardani mengingatkan AI harus diposisikan sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia.

AI bukan pengganti proses berpikir, belajar, dan membangun kompetensi.

“Kita bisa memanfaatkannya, tetapi dengan cara bijak,” kata Yuniar Wardani, Anggota Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu, 08/08/2026.

Perkembangan AI merupakan konsekuensi kemajuan ilmu pengetahuan dan globalisasi.

Teknologi ini membawa banyak manfaat namun menuntut kedewasaan.

Pemanfaatan AI tidak berbeda dengan teknologi lain yang memiliki dua sisi.

AI mampu mempercepat pekerjaan dan memudahkan akses terhadap informasi.

Ketergantungan yang berlebihan dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis manusia.

Manusia sebagai khalifah di bumi diciptakan dengan kelebihan.

Manusia memiliki tanggung jawab mengelola ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemaslahatan.

Manusia harus tetap berada di atas teknologi.

Manusia tidak boleh justru dikendalikan olehnya.

Ancaman Terhadap Kepakaran
Tantangan terbesar AI bukan sekadar kemudahan memperoleh jawaban.

Ancaman utamanya adalah lahirnya penurunan kepakaran.

Sebagian orang merasa cukup pintar tanpa lagi berdiskusi.

Ada kecenderungan orang enggan bermusyawarah.

Orang juga malas mendalami suatu bidang secara serius.

Kompetensi tidak dapat dibangun hanya dengan menerima informasi secara instan.

Tidak semua informasi dapat disebut ilmu.

Ilmu harus dipelajari melalui proses yang benar.

Ilmu dibangun oleh orang-orang yang memiliki kompetensi pada bidangnya.

AI tidak dapat menggantikan pengalaman.

AI tidak mampu menggantikan kedalaman analisis.

AI gagal menyamai keahlian seorang pakar.

Penggunaan AI Secara Proporsional
Teknologi tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen pendukung pekerjaan.

Dalam dunia akademik, AI dapat membantu menemukan referensi.

AI membantu mencari publikasi ilmiah yang sulit diperoleh.

Seluruh hasil yang diberikan AI tetap harus diverifikasi.

Verifikasi menggunakan pengetahuan dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

AI memiliki keterbatasan mendasar dibandingkan manusia.

AI tidak memiliki niat.

AI tidak mampu membedakan secara moral benar dan salah.

Pengguna AI harus memiliki kemampuan menyaring informasi.

Pengguna harus melakukan tabayun.

Pengguna wajib menguji validitas setiap jawaban yang diterima.

Masyarakat didorong menggunakan AI hanya untuk kebutuhan yang memberikan nilai tambah.

Pertanyaan sederhana sebaiknya tidak selalu diserahkan kepada AI.

Sikap tersebut akan membantu menjaga kemampuan berpikir.

Sikap itu melatih daya analisis manusia.

Pendidikan dan Integritas Akademik
Pendidik perlu menciptakan ruang belajar yang mendorong peserta didik mengembangkan gagasan sendiri.

Perlu ada waktu tertentu ketika penggunaan AI dibatasi.

Siswa terbiasa menuangkan pendapat tanpa bergantung pada teknologi.

Siswa terbiasa menulis dan berdiskusi.

Generasi muda harus menjadi produsen pengetahuan, bukan sekadar konsumen.

Perkembangan AI menjadi ujian integritas bagi kalangan akademisi.

Kejujuran serta kepakaran harus tetap dijaga.

Teknologi tidak boleh mengikis kualitas dunia pendidikan.

“AI harus disikapi dengan bijak. Tidak semua informasi itu adalah ilmu dan tidak semua ilmu itu bisa dipelajari langsung tanpa berkomunikasi dengan ahlinya,” kata Yuniar Wardani, Anggota Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu, 08/08/2026.

Masyarakat diharapkan tetap mengoptimalkan akal sebagai anugerah.

Teknologi harus benar-benar menjadi sarana meningkatkan kualitas manusia.

Komentar