Retorika Politik Presiden dalam Kacamata Pragmatik

Makassar1 Dilihat

Makassarviral.com, Makassar, Minggu, 20/09/2026 — Presiden mengkritik para pakar dengan sindiran “Saking pintarnya, saking pintarnya jadi go….ok”, yang memicu perdebatan publik dan mengungkap pentingnya konteks pragmatik dalam memahami retorika politik.

Retorika Populis dalam Konteks Perayaan

Presiden menyampaikan sindiran “Saking pintarnya, saking pintarnya jadi go….ok” saat menghadiri acara partai politik, menargetkan para pakar yang dianggap objektif melawan pemerintah.

Sindiran ini berfungsi sebagai retorika populis untuk membangkitkan semangat pendukung yang disebut Presiden sebagai “kawan-kawan sejati”.

Namun, ketika cuplikan video tersebar di media sosial, maknanya berubah, dengan banyak pengguna menafsirkannya sebagai serangan terhadap institusi akademik.

Pragmatisme dalam Berbahasa

Dell Hymes’ model SPEAKING mengingatkan bahwa ujaran tidak pernah dalam ruang hampa; makna bergantung pada setting, peserta, tujuan, dan nada.

Sindiran tersebut ditujukan kepada segelintir pakar yang dianggap menyebarkan narasi yang mendiskreditkan kebijakan pemerintah tanpa data yang jujur, kata Suci Ayu Kurniah P, Dosen Linguistik, Minggu, 20/09/2026.

Kesadaran akan dampak ilokusi dan perlokusi penting bagi pejabat publik, karena kata-kata dapat membentuk persepsi dan mempengaruhi psikologis massa.

Dampak dan Kesimpulan

Publik kini harus memilih apakah menilai pernyataan dengan cermat atau menerima informasi secara mentah karena tekanan media sosial.

Pilihan tersebut mencerminkan kedewasaan demokrasi dan literasi publik masyarakat.

Masyarakat ditantang untuk menyeimbangkan antara semangat kritis dan pemahaman kontekstual dalam menyikapi retorika politik.

Komentar