IKAFE Unhas Peringatkan Ancaman ‘Drifting Economy’ Hambat Transformasi Ekonomi Indonesia

Berita Makassar

Bisnis, Makassar3 Dilihat

Makassarviral.com, Makassar, Senin, 11/05/2026 — Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas) menyuarakan kekhawatiran terhadap arah perekonomian Indonesia.

Organisasi ini menilai perekonomian nasional menghadapi persoalan struktural yang semakin kompleks dan berpotensi kehilangan momentum transformasi.

Key Takeaways

[pointnya points=”IKAFE Unhas peringatkan risiko ‘drifting economy’|Stabilitas makroekonomi bisa kehilangan daya dorong transformasi|Persoalan struktural makin kompleks|Pernyataan disampaikan Senin, 11/05/2026|Diperlukan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih terintegrasi”]

Ancaman ‘Drifting Economy‘ dan Risiko Stabilitas

Ketua Umum IKAFE Unhas, Prof. Dr. Muh. Yunus, S.E., M.Si., mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini berada dalam fase rawan. Tanpa adanya terobosan kebijakan yang tepat, stabilitas makroekonomi bisa kehilangan daya dorong transformasi.

“Kita khawatir terjadi ‘drifting economy’, di mana perekonomian berjalan tanpa arah yang jelas, hanya bertumpu pada stabilitas jangka pendek tanpa fondasi transformasi jangka panjang,” kata Prof. Yunus, Senin, 11/05/2026.

Menurut Prof. Yunus, indikator seperti defisit neraca perdagangan nonmigas, penurunan daya beli kelas menengah, dan lambatnya penyerapan tenaga kerja di sektor formal menjadi sinyal bahaya.

Ia mencontohkan sektor manufaktur yang kontribusinya terhadap PDB terus menurun dalam lima tahun terakhir, dari 20,5 persen pada 2021 menjadi sekitar 18,7 persen pada 2025. “Ini menunjukkan deindustrialisasi dini yang harus diwaspadai,” tegasnya.

IKAFE Unhas mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada stabilitas harga dan nilai tukar, tetapi juga memperkuat sisi riil ekonomi.

“Kebijakan fiskal dan moneter harus lebih terintegrasi dengan kebutuhan sektor riil, terutama UMKM dan industri pengolahan,” ujar Prof. Yunus.

Rekomendasi Kebijakan dan Langkah Konkret

Dalam pernyataan resminya, IKAFE Unhas mengajukan tiga rekomendasi utama. Pertama, reformasi insentif fiskal untuk industri padat karya dan substitusi impor.

Kedua, percepatan hilirisasi sumber daya alam berbasis riset dan nilai tambah. Ketiga, penguatan jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan agar daya beli tetap terjaga.

“Transformasi ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan stabilitas makro. Diperlukan keberanian untuk melakukan penyesuaian struktural, termasuk perbaikan iklim investasi dan kepastian hukum,” tambah Sekretaris Jenderal IKAFE Unhas, Dr. Andi Nurul Hidayah, S.E., M.M.

IKAFE Unhas juga mengingatkan agar pemerintah tidak terjebak pada kebijakan populis jangka pendek yang mengorbankan fondasi transformasi.

“Kita perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan yang inklusif,” pungkas Dr. Andi Nurul.

IKAFE Unhas berencana menggelar diskusi nasional dalam waktu dekat untuk membahas lebih lanjut ancaman ‘drifting economy’ dan merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih konkret.