Sulseltimes.com, Singapura, Sabtu, 07/11/2026 — Mantan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo membeli 100 ribu lembar saham Wilmar International senilai Rp4,19 miliar.
Transaksi Pembelian Saham di Pasar Terbuka
Transaksi pembelian dilakukan di pasar terbuka dengan harga S$2,97 per lembar.
Nilai total transaksi mencapai S$297.000 atau setara dengan Rp4,19 miliar, menurut dokumen yang dilaporkan kepada Bursa Efek Singapura.
Transaksi ini terjadi ketika nilai perusahaan sedang dalam tekanan.
Harga saham perusahaan agribisnis tersebut telah merosot lebih dari 14 persen dalam beberapa minggu terakhir.
Investigasi Terkait Kabut Asap
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau NEA sebelumnya mengirimkan pemberitahuan kepada sepuluh perusahaan tercatat, termasuk Wilmar.
Pemberitahuan tersebut meminta informasi mengenai hubungan korporasi, konsesi lahan di Indonesia, serta upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran.
Wilmar telah menerima penunjukan Control Risks Group oleh NEA untuk menilai apakah perusahaan memiliki keterkaitan dengan kebakaran di Indonesia.
Perusahaan menyatakan akan bekerja sama secara sukarela dengan penilai tersebut dan firma hukum Dentons Rodyk & Davidson.
Sebelumnya, Wilmar mengungkapkan telah menjual pupuk dan bahan bakar diesel untuk alat berat kepada enam dari sepuluh perusahaan yang dikaitkan dengan kabut asap.
Penjualan tersebut menghasilkan pendapatan sekitar US$22,5 juta atau Rp407,25 miliar pada laporan keuangan terbaru.
Profil dan Kepemilikan
George Yeo bergabung dengan dewan direksi Wilmar sebagai direktur independen.
Sebelumnya, ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Singapura dan pernah menduduki posisi eksekutif di grup perusahaan Kerry.
Wilmar dan Kerry sama-sama berada di bawah kendali keluarga Kuok dari Malaysia.
Di tengah tekanan terhadap saham Wilmar dan pemeriksaan terkait kabut asap, pembelian saham oleh Yeo menambah kepemilikannya di perusahaan agribisnis tersebut menjadi lebih dari satu juta lembar.
Bursa Efek Singapura telah mencatat transaksi pembelian saham oleh anggota dewan direksi Wilmar tersebut.
