Tunu Panroli Warnai Festival Pinisi XVI, Angkat Kearifan Adat Kajang

Makassar6 Dilihat

Makassarviral.com, Bulukumba, Kamis, 15/10/2026 — Tradisi Tunu Panroli memwarnai Festival Pinisi XVI Tahun 2026 di Kabupaten Bulukumba sebagai bagian dari upaya melestarikan kearifan adat Kajang.

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat adat Kajang menggunakan linggis yang dipanaskan hingga membara sebagai simbol pembuktian kejujuran dan kebenaran.

Pelaksanaan Tunu Panroli terjadi di Kecamatan Kajang pada hari Kamis 15 Oktober 2026 dalam rangkaian kegiatan budaya festival.

Kegiatan dihadiri oleh Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf bersama pemangku adat Kajang atau Galla, anggota DPRD, sekretaris daerah, serta tokoh Forkopimda dan OPD.

Tunu Panroli tidak hanya menjadi atraksi visual tetapi juga mengajarkan nilai tanggung jawab dan kepatuhan terhadap aturan adat yang berlaku.

Nilai Adat yang Dikandung dalam Tunu Panroli

Nilai kejujuran menjadi inti dari ritual Tunu Panroli karena linggis yang dipanaskan hanya akan membara jika pemegangnya benar-benar jujur.

Tanggung jawab juga tercermin dalam cara masyarakat menjaga kelestarian linggis dan bahan bakar yang digunakan selama upacara.

Kepatuhan terhadap norma adat menunjukkan bahwa setiap langkah dalam prosesi harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh tetua Kajang.

Dengan demikian tradisi ini berfungsi sebagai media pendidikan informal bagi generasi muda tentang etika hidup dalam masyarakat Kajang.

Festival Pinisi XVI sebagai Wadah Pengenalan Budaya Kajang

Festival Pinisi XVI menampilkan berbagai atraksi selain Tunu Panroli seperti Ritual Andingingi, Angngaru Kajang, dan Tari Pabitte Passapu.

Selain pertunjukan, ada demonstrasi pembuatan sarung Kajang asli serta sajian kue khas yang menggali kuliner lokal.

Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mengenali secara langsung ragam seni, keterampilan, dan makanan yang diwariskan turun-temurun.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba mencari melalui festival ini agar warisan budaya setempat semakin dikenal luas dan terus dilestarikan amid perubahan zaman.

Harapan Pelestarian Budaya untuk Masa Depan

Pelestarian budaya tidak hanya mempertahankan bentuk tradisi tetapi juga menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar dipahami oleh generasi berikutnya.

Dengan memasukkan Tunu Panroli ke dalam festival besar, diharapkan rasa harga terhadap kearifan lokal Kajang dapat tumbuh di kalangan masyarakat luas.

Upaya semacam ini juga mendukung ekonomi kreatif melalui pariwisata budaya yang berkelanjutan.